Blog Archive

CLOCK

Friday, March 21, 2008

WAJAH PENDIDIKAN TANAH KARO

Written by Steven B Amor Tarigan (Sekretaris Umum IMKA-SU)
Sistem pendidikan di Tanah Karo harus diperhatikan secara serius saat ini oleh pihak-pihak terkait yang mempunyai tugas dan tanggung jawab didalam bidang pendidikan. Bila hal ini dibiarkan maka lambat laun generasi penerus dari tanah karo akan hilang terkerus oleh ketidak pedulian kita terhadap dunia pendidikan. Kondisi ini dapat kita lihat bersama dalam kegiatan Try-Out SMA untuk menghadapi Ujian Nasional yang telah dilaksanakan oleh IMKA-SU (Ikatan Mahasiswa Karo Sumatera Utara) baru-baru ini pada hari jumat tanggal 28 April 2006 yang dilakukan secara acak terhadap 22 Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Karo antara lain sekolah yang menjadi objek yaitu : SMA Negeri 1 Buluh Pancur, SMA Negeri 1 Munthe, SMA Negeri 1 Payung, SMA Negeri 1 lau Rakit, SMA Negeri 1 Simpang Empat, SMA Negeri 1 Kaban Jahe. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah kurang lebih 800 orang, dan hasil yang diperoleh sekitar 6 % saja yang dinyatakan lulus dan didominasi oleh SMA Negeri 1 Kaban Jahe. Pemeriksaan hasil test yang dilakukan dengan sistem OMR (komputerisasi), itu juga telah dilakukan pembenaran, seperti contoh ; penghitaman lingkaran pada lembar jawaban oleh para peserta dinyatakan salah karena faktor seperti keluar dari lingkaran, bolong, kotor, dan lai-lain dibenarkan, tetapi itu juga tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Dari hasil tersebut kita tentu bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Karo. Bagaimana nantinya nasib para siswa/i yang akan mengikuti UN, bagaimana perasaan orang tua yang telah bersusah payah untuk menyekolahkan anak-anaknya namuntidak membuahkan hasil yang sempurna, apakah kita hanya dapat diam melihat moral dan mental anak didik yang dapat dikatakan sangat bobrok ini. Tentunya kita berpulang lagi terhadap hati nurani kita sendiri, sampai kapan mutu pendidikan di Kabupaten Karo yang amat rendah. Dimanakah peran kita selama ini, haruskah kita saling menyalahkan dan mencari kambing hitam untuk mencari penyebab dari semua itu. Sebaiknya kita harus berkaca lagi terhadap diri sendiri, apakah yang saya lakukan selama ini telah berjalan dengan baik ?. Kenapa mutu pendidikan di Kabupaten Karo hingga saat ini belum juga berjalan dengan baik. Dari beberapa sekolah yang mengikuti Try-Out ini saya melihat antusias peserta nampak kurang ditambah lagi tidak seriusnya dalam pengerjaan soal, kebanyakan siswa/i menganggap sepele terhadap materi soal yang diberikan. Walaupun kita telah memberikan motivasi/dorongan, semangat kepada peserta namun itu juga tidak dapat menumbuhkan rasa/semangat dalam pengerjaan materi soal. Sempat juga beberapa orang siswa/i yang ditanyai oleh para tentor/pengawas dari mahasiswa tentang motivasi, cita-cita, tujuan untuk bersekolah tapi jawabnya enteng saja “setelah tamat mau kawin aja” dalam hati kecil kami merasa sedih dengan nasib para generasi penerus saat ini yang tidak peduli terhadap masa depannya sendiri. Memang ada juga beberapa yang menyatakan mau melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi namun setelah dilontarkan pertanyaan lagi : “persiapan apa yang telah kamu lakukan, untuk mewujudkan keinginan tersebut ?” jawabnya “belum ada”……………..!!!!!!!! Sungguh getir rasanya melihat kondisi diatas, memang tidak dipungkiri lagi bahwa ini semua terjadi karena kurangnya kepedulian kita terhadap generasi muda saat ini. Sekolah hanya dibuat untuk ajang bisnis semata, dalih sekolah dibuat untuk mendapatkan kucuran dana hibah tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Sekolah dijadikan korban politik yang menjerat generasi penerus. Sebagai contoh kecil dapat kita lihat disekolah seperti program “Study Tour”, jika kita melihat kasus ini maka pihak yang sangat diuntungkan adalah pihak penyelenggara/panitia, oknum tertentu pasti tidak sepakat dengan hal ini, tetapi dapat kita lihat disini bahwasanya dari dana yang dihimpun tidak sepeserpun dana yang dikeluarkan oleh pihak penyelenggara karena telah ditutupi oleh dana tersebut bahkan lebih makanya sangatlah gencar para oknum menyatakan alasan yang muluk-muluk untuk dapat meloloskan rencananya meraup keuntungan. Ini merupakan salah satu cara pembodohan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Tetapi alangkah baiknya jika dana tersebut dibuat menjadi modal atau dana untuk melakukan riset/penelitian ilmiah, tentunya semua pihak dapat memperoleh keuntungan yang ganda, baik itu secara individual maupun secara umum. Memang dari dulu kita selalu dipaksa berpikir secara instant untuk mencapai target yang dituju tanpa memikirkan jalan terbaik. Sebagai contoh dapat kita lihat dibawah ini : “Ketika seorang anak yang butuh uang mendapatkan sebatang balok, maka dia langsung akan menjualnya” namun apabila balok tersebut diolah terlebih dahulu menjadi material yang bermanfaat seperti lemari atau rak buku maka nilai/nominalnya tentu lebih tinggi dibanding harus menjual langsung tanpa diolah. Dari contoh tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasanya kita tidak pernah dipacu untuk berpikir lebih kritis dan hanya memikirkan hasil akhir tanpa memikirkan prosesnya. Dalam rangka mendongkrak mutu pendidikan dibutuhkan derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible. Dalam mengelola/menjalankan peningkatan mutu pendidikan sekolah merupakan alternatif dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Beberapa indikator yang menunjukkan karakter dari konsep ini antara lain sebagai berikut; a) Lingkungan sekolah yang aman dan tertib, b) Sekolah memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai, c) Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat, d) Adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi, e) Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK, f) Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, g) Adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat. Dalam konteks peningkatan mutu pendidikan, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam "proses pendidikan" yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; materi pelajaran (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Dan juga harus dimiliki empat hal yang terkait dengan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total yaitu; a. Perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus-menerus mengumandangkan peningkatan mutu, b. Kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah, c. Prestasi harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan, d. Sekolah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap arief bijaksana, karakter, dan memiliki kematangan emosional. Dalam memanajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensinkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler, baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Mutu dalam konteks "hasil pendidikan" mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, semester). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya : komputer, beragam jenis teknik keterampilan, jasa. Bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, dsb. Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawab sekolah dalam menciptakan sekolah yang berkualitas bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai . Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah ' terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau "kognitif" dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya : NEM). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap sekolah baik yang sudah ada patokannya (benchmarking) maupun yang lain (kegiatan ekstra-kurikuler) dilakukan oleh individu sekolah sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Diharapkan sebaiknya Pemerintah Daerah lebih giat lagi mendorong dan mengawasi sekolah-sekolah agar lebih proaktif dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Karo dan tidak terlepas “Social Control” dari masyarakat/mahasiswa dan pihak-pihak yang peduli terhadap pendidikan di Tanah Karo. Oleh karena itu didalam proses peningkatan mutu pendidikan perlu dicari alternatif pengelolaan sekolah, tetapi masih tetap mengacu kepada kebijakan nasional. Konsekwensi dari pelaksanaan ini harus ada komitmen yang tinggi dari berbagai pihak yaitu Orang Tua/Masyarakat, Guru, Kepala Sekolah, Siswa dan Staf lainnya di satu sisi dan Pemerintah Daerah (Depdikbud) di sisi lainnya sebagai partner dalam mencapai tujuan peningkatan mutu pendidkan sekolah. Strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah antara lain meliputi evaluasi diri untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan sekolah. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut sekolah bersama-sama orang tua dan masyarakat menentukan visi dan misi sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan atau merumuskan mutu yang diharapkan dan dilanjutkan dengan penyusunan rencana program sekolah termasuk pembiayaannya, dengan mengacu kepada skala prioritas dan kebijakan nasional sesuai dengan kondisi sekolah dan sumber daya yang tersedia. Dalam penyusunan program, sekolah harus menetapkan indikator atau target mutu yang akan dicapai. Kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah melakukan monitoring dan evaluasi program yang telah direncanakan sesuai dengan pendanaannya untuk melihat ketercapaian visi, misi dan tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan kebijakan nasional dan target mutu yang dicapai serta melaporkan hasilnya kepada masyarakat dan pemerintah. Hasil evaluasi (proses dan output) ini selanjutnya dapat dipergunakan sebagai masukan untuk perencanaan/penyusunan program sekolah di masa mendatang (tahun berikutnya). Demikian terus menerus sebagai proses yang berkelanjutan. Harapannya dengan konsep ini, maka peningkatan mutu pendidikan akan dapat diraih oleh kita sebagai pelaksanaan dari proses pengembangan Sumber Daya Manusia menghadapi persaingan global yang semakin ketat dan ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara cepat. Dan janganlah menutup mata demi kelangsungan masa depan Tanah Karo Simalem. Jangan ada lagi image “Buku Mengajar Dalam Kelas” …… “Mau Pintar Kok Mahal” …………. Kalau tidak sekarang kapan lagi kita akan berubah.

No comments:

About Me